Wisata Pantai Kayu Angin Nunukan Kalimantan Utara

Pantai Kayu Angin di Nunukan, Berpayung dan Berbangku Pelangi

Minggu (19/11/2017) sore, ratusan warga Nunukan, Kalimantan Utara terlihat asyik berswafoto di sejumlah titik pinggir pantai Kayu Angin yang terletak di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia.

Kebanyakan pengunjung memilih berswafoto di bangunan payung dan bangku warna-warni di pinggir pantai.

Sementara sebagian pengunjung yang membawa anak-anak lebih suka menghabiskan sore itu dengan bermain jungkat jungkit yang juga dicat warna-warni di bibir pantai sebelah barat.

“Anak-anak tambah betah dengan adanya ayunan dan jungkat jungkit serta adanya bangku warna-warni di sini. Dulunya nggak ada, cuma pantai yang kotor,” ujar Ikhwan, salah satu warga Nunukan yang datang bersama keluarga Minggu (19/11/2017).

Pohon Kayu Angin di Pantai Kayu Angin, Nunukan, Kalimantan Utara mulai condong terdampak abrasi pantai./SUKOCO Pohon Kayu Angin di Pantai Kayu Angin, Nunukan, Kalimantan Utara mulai condong terdampak abrasi pantai.

Santi, warga Sebatik yang terlihat berswafoto bersama teman-temannya di bangunan payung yang terbuat dari kayu dengan atap daun kelapa yang juga dicat warna-warni mengaku senang dengan adanya pembuatan sejumlah wahana permainan anak-anak dan bangku warna-warni yang menghiasai pantai Kayu Angin.

Pantai Kayu Angin yang selama ini terlihat kotor karena sampah dari laut yang terbawa ombak terdampar di pantai kini terlihat lebih indah dengan hadirnya 10 bangunan payung dari kayu serta 10 bangku warna-warni yang diletakkan di bibir pantai.

Warga juga terlihat secara gotong royong membangun wahana permainan seperti ayunan, jungkat junkgit dari kayu serta lapangan futsal di salah satu spot bibir pantai.

Pantai Kayu Angin di Nunukan, Kalimantan Utara yang indah dengan pasir coklatnya yang bersih terancam abrasi./SUKOCO Pantai Kayu Angin di Nunukan, Kalimantan Utara yang indah dengan pasir coklatnya yang bersih terancam abrasi.

“Banyak warga yang mengunggah keindahan pantai Kayu Angin di Facebook setelah warga gotong royong membangun payung dan bangku warna-warni. Terlihat lebih cantik,” ujarnya.

Ide membangun pantai Kayu Angin secara bergotong rotong, menurut Ketua DPRD Nunukan Dani Iskandar, karena selama ini masyarakat berharap pantai Kayu Angin bisa dikelola secara baik sehingga berdampak adanya perputaran perekonomian.

Selama ini pantai Kayu Angin seperti dibiarkan kumuh dengan sampah dan tidak adanya fasilitas pendukung seperti jalan masuk menuju pantai, kawasan parkir untuk kendaraan pengunjung serta tempat sampah bagi pengunjung.

Padahal setiap akhir pekan ratusan hingga ribuan warga Nunukan mengunjungi pantai Kayu Angin.

Rumah salah satu warga di Pantai Kayu Angin, Nunukan, Kalimantan Utara  yang terancam ambruk tergerus abrasi pantai. Selain di Pantai Kayu Angin dan Pantai Batu Lamampu, abrasi pantai juga terjadi di Pantai Tanjung Aru. Sayangnya upaya pembuatan pemecah gelombang di beberapa lokasi belum bisa menghentikan laju abrasi pantai di Sebatik./SUKOCO Rumah salah satu warga di Pantai Kayu Angin, Nunukan, Kalimantan Utara yang terancam ambruk tergerus abrasi pantai. Selain di Pantai Kayu Angin dan Pantai Batu Lamampu, abrasi pantai juga terjadi di Pantai Tanjung Aru. Sayangnya upaya pembuatan pemecah gelombang di beberapa lokasi belum bisa menghentikan laju abrasi pantai di Sebatik.

Nantinya, lanjut Dani Iskandar, pantai Kayu Angin akan dikelola oleh BUMdes setempat.

“Dengan dibangun secara gotong royong artinya warga saling memiliki dan saling menjaga. Kita hanya fasilitasi saja karena pantai Kayu Angin ini salah satu tujuan wisata bagi warga. Semoga dengan semakin cantik pengunjung dari Malaysia juga tertarik ke sini sehingga ada pemberdayaan ekonomi,” kata Dani Iskandar.

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *